×

Iklan

Iklan

Pemilihan Staf Sinode Advent di Sorong Terindikasi Penuh Kecurangan

Dec 15, 2021 | 15:39 WIB Last Updated 2021-12-20T15:07:54Z
Saat Pemilihan Staf Sinode Advent di Sorong yang berlangsung pada 25 dan 26 November 2021. © 2021 Infosatu.co.id

SORONG, Infosatu.co.id - Kantor Pusat Advent untuk Indonesia bagian Timur, baru saja menyelesaikan pemilihan stafnya untuk periode 2022-2025. Pemilihan ini berlangsung pada tanggal 25 dan 26 November 2021 di Sorong baru lalu. Selain Ketua, Sekretaris dan Bendahara di 11 Sinode, telah terpilih juga lebih dari 50 staf totalnya untuk menjalani tugas Kegerejaan selama 4 tahun kedepannya.

Namun didalam pemilihan tersebut ada beberapa staf yang dilaporkan sebagai tidak layak lagi menjadi pemimpin, terkait masa lalu mereka yang dipertanyakan oleh umat. Apalagi pemilihan ini sudah diatur atau direncanakan siapa-siapa saja yang akan dipilih dan yang akan terpilih. Sehingga pemilihan tersebut dinyatakan curang dan tidak sah. Demikian dijelaskan Dennis Tilon sebagai anggota dari Gereja Advent sedunia, Rabu (15/12/2021).

Menurut Dennis, ada beberapa alasan yang menjatuhkan Ritus Keni (pendeta) yang menjadikan dia tidak layak meneruskan posisinya sebagai ketua Sinode Advent di Manado. Diantaranya,

1. Secara nepotisme, Ritus Keni telah mengatur sedemikian rupa agar adiknya (Magdalena Keni) yg tamatan guru dari Universitas Klabat, naik menjadi kepala sekolah di sekolah gereja Advent di Halmahera, walaupun dia sendiri mengetahui kalo adiknya memiliki ijasah palsu keluaran dari SMA Klabat.

Jauh hari sebelum kasus ijazah palsu adiknya muncul, dia pernah bersaksi kepada beberapa rekannya bahwa memang benar adiknya menggunakan ijazah palsu karena adiknya pernah hamil diluar nikah lalu di tolong oleh omnya yang saat itu kepala sekolah dari SMA Klabat dengan membuatkan ijazah palsu tsb. Dikabarkan kalo Ritus dengan santainya mengumbar cerita ini, yang memberi kesan seolah-olah ini adalah hal yang sepele saja untuk menipu serta memalukan umat dari gereja Advent sedunia, dan Pemerintahan RI, khususnya dari Departemen Pendidikan.

2. Memindahkan 3 pendeta di bulan lalu dengan cara yang kasar dan diluar aturan organisasi demi suksesi dia untuk tetap menjadi ketua konfrens, dengan alasannya kalo ke-3 pendeta tersebut sudah bermain politik kotor. Ternyata Ritus lah yang sudah berskongkol dengan ketua Uni untuk memenangkan dirinya kembali di posisi yang sama sebagai Ketua Sinode Advent di Manado. Perbuatannya ini ternyata amat memilukan hati para pendeta lainnya terhadap pimpinan di pusat.

3. Lebih mendengar ke istrinya yang kedapatan telah berani mengancam seorang pendeta bawahan suaminya dimana kalo suaminya terpilih lagi menjadi Ketua Sinode di periode berikutnya, maka pendeta yang tidak sukai oleh sang istri ini akan dipecat dengan semena-mena. Padahal sang istri ini bukanlah pemimpin resmi dari para pendeta ini.

"Waktu kita membaca ulasan diatas ini, pantaskah kita sebagai umat Advent dipimpin oleh Ketua Sinode yang memiliki cacat moral dan rohani seperti Ritus? Kita perlu lebih jeli lagi menentukan pemimpin kita. Meski beliau sudah terpilih, tapi tetap masih bisa diturunkan atas persetujuan sebagian besar umat. Kami percaya jika hal ini tidak diperhatikan umat, maka Tuhan sendiri akan bertindak," kata Dennis, melalui via telepon.

Selain itu lanjut Dennis, Pdt. Benny Ole yang tadinya terpilih untuk memimpin Sinode Sulawesi Tengah, juga memiliki kasus moral dengan adanya anak diluar nikah dengan wanita berinisial EB disaat masih kuliah di Universitas Klabat. Juga setelah dia duduk di bagian administratif, ada kasus lain dibidang keuangan di daerah misi Bolmong dan Gorontalo, sehingga dia dipindahkan ke Palu.

Lalu, Pdt. John Tagah yang saat ini terpilih menjadi Sekertaris di Sinode Bolmong dan Gorontalo, ternyata pernah diskors dari fakultas Filsafat Univ Klabat karena sudah menghamili seorang gadis diluar nikah.

Terakhir adalah Stenly Kuhu yang telah terpilih menjadi bendahara di Sinode Minahasa Utara dan Bitung. Dia juga memiliki banyak kasus keuangan dan perselingkuhan yang amat menyedihkan umat sampai dia harus lari meninggalkan Ambon dengan bergegas.

“Sebenarnya pelanggaran yang serius seperti ini harus langsung dipecat, sesuai dengan Working Policy dari Gereja Advent sedunia, maupun Pedoman Kerja Karyawan dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia yang telah disahkan oleh Depnaker juga. Diluar mereka ber-empat, masih ada beberapa nama yang tidak disebutkan disini, tapi sudah nyata memiliki cacat moral dan kerohanian sehingga mereka dianggap tidak lagi layak bekerja sebagai pendeta, sekertaris atau bendahara bagi umat Advent, apalagi sebagai pimpinan dari satu Sinode di Indonesia Timur,” demikian pembicaraan Dennis Tilon mengakhiri wawancara ini.

Ternyata Dennis Tilon adalah salah satu pimpinan medsos terpanas saat ini dikalangan Advent di Indonesia Timur yang bernama MENARA dan Asian Church Watchdog, yang juga dikabarkan telah menghubungi langsung President dari Gereja Advent sedunia di Maryland, USA.

Dari Amerika, bersama Lukman Harahap sebagai pimpinan Church Coruption Watch, mereka sedang berkolaborasi dengan banyak umat di Indonesia untuk membongkar berbagai kasus pelecehan sex, keuangan serta pelanggaran moral lainnya yang tidak pantas dilakukan oleh para pemimpin agama berjubah pendeta, khususnya yang terjadi di Indonesia bagian timur.

Sebelum berita ini dipublikasikan, Ritus Keni (pendeta) yang terpilih sebagai ketua Sinode Advent di Manado, sudah beberapa kali dikonfirmasi ke kantor Ritus Keni yang beralamat di Jalan Yosudarso no 15 Paal Dua, Kantor Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK). Tapi sekuriti mengatakan tidak berada ditempat, sempat juga sekuriti mengatakan ada kegiatan diluar, juga dikonfirmasi melalui via telepon ke nomor +62 852-5630-XXXX
tidak pernah diangkat dan ditanggapi.

Penulis: Redaksi
×
Berita Terbaru Update